Izinkan Aku Menemanimu di Surga

IMG_3842Senja tak pernah merasakan kehangatan seperti ini

Tapi senja ingin membalas kehangatan ini

Senja tak pandai merangkai kata di depanmu

Senja pun tak pandai membuat isyarat

Tapi, izinkan senja untuk mengungkapkan lewat tulisan ini

Dunia ini hanya sementara

dan hanya persinggahan kita saja

cita-cita mu menuju surgaNya..

aku pun ingin masuk ke surgaNya

dan izinkan aku untuk menemanimu di surga

Iklan

Rekomendasi Buku

Ibunda Para UlamaBismillah…

Sekian lama saya tidak membuka akun web ini. Cukup kesulitan juga dengan lupanya pasword. Alhamdulillah, masih tersambung dengan email. Beberapa pos saya  hapus. Karena saya sedang belajar mengurangi hal-hal yang tidak terlalu penting untuk di bagikan. Dalam postingan kali ini, saya ingin merekomendasikan sebuah buku.

“Jangan hanya bercerita tentang kecerdasan Imam Syafi’i, kealiman Sufyan Ats Tsauri, kezuhudan Hasan Al Bashri, dan kesabaran Anas bin Malik, tapi bagaimana ibunda mereka”

Buku ini ditulis oleh Sufyan bin Fuad Baswedan. Terdiri dari 302 halaman dengan ukuran 13×18 cm. Untuk yang suka baca sehari baca bisa tamat hihi.. Penerbitnya Pustaka Al Inabah. tahun 2012.

Jika kita sering membaca sirah para sahabat, tentu kita juga perlu membaca sirah para sahabiyah.

Postingan hari ini cukup seperti ini dulu. Bumil mau siap-siap mengajar dulu.. 🙂

Merindu

Kala rindu mulai menyapa

mendekap pelan hingga ke tulang

sendi-sendi pun mulai mengilu

menahan dekapan rindu yang semakin erat

rindu apa gerangan ini

hingga hati pun ikut terdekap akhirnya

rindu belahan hati yang tak kunjung bertemu

untuk kesekian kalinya

 

rindu ini ingin bertemu

melepas senyum didepan wajahnya

bercengkerama dengan riang seperti dulu

rindu..

 

Rindu, aku tahu rasanya rindu

rindu

aku rindu

 

 

10 November 2017

Kota Bandung

Semua Berawal Dari Niat

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh manusia tentunya memiliki niat. Niat itu sendiri dalam kamus bahasa Indonesia artinya maksud atau tujuan suatu perbuatan. Niat kita untuk minum adalah menghilangkan haus. Niat makan untuk menghilangkan rasa lapar. Niat bekerja untuk melangsungkan kehidupan di dunia. Begitu pula dalam aktifitas apapun. Termasuk dalam sebuah organisasi, tahu kan arti organisasi? Yah, sekumpulan orang yang memiliki visi dan misi yang sama. Apa itu visi dan misi? Tak lain adalah tujuan. Kembali lagi pada awal pembahasan, apa itu tujuan? Itulah niat. Organisasi adalah sekumpulan orang yang memiliki niat sama. Organisasi pecinta fotografi, mereka memiliki niat untuk menyalurkan hobi mereka. Memotret. Menginginkan saling tukar informasi, dan dapat mengembangkan kemampuan diri.

Dalam suatu organisasi tentu tak lepas dari yang namanya lika-liku, suka duka, masalah, perbedaan pendapat dan beragam warna lain yang pastinya butuh kecerdasan emosional dalam diri setiap orang yang mengikuti organisasi. Organisasi itu seperti taman, tak hanya satu bunga yang hadir disana tapi lebih dari satu. Bagaimana warna bunga tersebut? Berwarna-warni, tak satu warna. Tapi apa yang dilihat? Sungguh sangat indah bukan? Begitu pula didalam organisasi.

Manusia, adalah individu yang memiliki karekter berbeda. Kembar sekalipun. Karakter dan sikap yang dimiliki tetaplah berbeda. Setiap individu memiliki pemikiran dan jalan masing-masing. Ada yang berfikir tentang A dan ada yang berfikir tentang B. begitu pula bunga di taman, warna ukuran dan bau mereka berbeda-beda. Tapi apa yang dihasilkan? Keindahan taman yang dapat kita nikmati. Begitu pula dalam organisasi, perbedaan karakter, sikap, pemikiran, dan perbedaan lain bukan dijadikan masalah atau penghambat organisisi tersebut. Tapi jadikan sebagai kekuatan untuk mencapai niat awal tadi.

Contohnya, dalam sebuah organisasi kepenulisan tentu memiliki niat yang sama yaitu mengembangkan bakat menulis. Sebut saja Orpen. Orpen berencana mengadakan sebuah seminar kepenulisan sebagai perwujudan pengembangan diri mereka. Ada anggota yang suka bicara disana maka bisa dijadikan sebagai MC, ada yang senang berinteraksi dengan orang bia dijadikan sebagai humas. Ada yang sangat pendiam dan sulit berkomunikasi, bisa dijadikan sebagai seksi belakang layar seperti sekretaris creative design dan beragam perbedaan lain yang akan menjadikan seminar tersebut berjalan. Indah bukan? Perbedaan tersebut dapat menyajikan sebuah seminar yang bermanfaat.

Niat, kenapa saya mengangkat tema ini dalam tulisan saya kali ini? Ya, karena manusia sering lupa dengan niat awalnya. Banyak sekali saya menemukan, orang-orang yang awalnya bersemangat dalam sebuah organisai namun diakhir menurun bahkan bisa dibilang berhenti dalam organisasi tersebut. Sungguh sangat disayangkan. Alasan yang muncul pun berbeda-beda, malu karena tidak ikut satu atau dua kegiatan, tidak menyumbangkan kontribusi. Terlalu berharap pada manusia hingga akhirnya membuatnya kecewa.

Sungguh sangat disayangkan, apa niatmu masuk dalam sebuah organisasi? Apakah sudah tercapai niat yang ingin kamu peroleh tersebut? Ya? Atau tidak? Jika belum lalu apa yang salah? Dari diri kitakah? Tentunya jangan salahkan organisasinya, karena ia hanyalah sebuah wadah yang menaungi. Sedangkan manusia adalah penggerakknya. Organisasi tidak akan bergerak jika Sumber Daya Manusianya (SDM) tidak bergerak. (Kota Bandung, Senin malam)

Bukan Profesi Biasa

Perpustakaan sebagai jantung sekolah memiliki peranan yang sangat penting dalam keberlangsungan pembelajaran di sekolah. Ibarat jantung dalam tubuh jika fungsinya terganggu maka kerja anggota tubuh yang lain pun akan terganggu. Begitu juga perpustakaan, pengolaan yang tidak baik akan berimbas pada proses pembelajaran yang buruk. Apalagi jika di sekolah tersebut tidak terdapat perpustakaan, akan muncul sebuah perntanyaan “hidupkah pembelajaran disana tanpa adanya jantung?”

Keberadaan perpustakaan pun harus diikuti dengan keberadaan seorang pustakawan. Ibarat otak dalam tubuh, pustakawan akan bekerja agar jantung tetap sehat dan berjalan normal. Jantung akan tetap berdetak jika dijaga dengan baik, begitupun perpustakaan. Pustakawan sebagai pengelola berkewajiban menjaga perpustakaan tetap berdetak normal.

Namun, tidak setiap perpustakaan memiliki seorang pustakawan. Sekolah sering menempatkan seorang guru yang kekurangan jam mengajar atau staf tata usaha yang dialihkan untuk mengisi pekerjaan di perpustakaan. Penempatan pun terkadang asal-asalan, orang yang dianggap bekerja tidak kompeten sering dialihkan ke perpustakaan. Bagaimana jadinya jantung tersebut bisa bekerja normal bila otak yang berkerja tidak kompeten?

Menurutu Undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan, pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan.

Seseorang yang ditempatkan di perpustakaan haruslah memenuhi kompetensi kepustakawanan. Kompetensi ini telah dijelaskan dalam permendiknas nomor 25 tahun 2008 tentang standar tenaga perpustakaan sekolah/madrasah. Disana dijelaskan seorang pustakawan sekolah haruslah memiliki kompetensi manajerial, pengelolaan informasi, kependidikan, kepribadian, sosial dan pengembangan profesi. Bila mengacu pada kompetensi tersebut sekolah harusnya menyeleksi setia orang yang akan ditempatkan di perpustakaan. Seleksi dapat didasarkan pada permendiknas tersebut.

Kompetensi pertama adalah manajerial, seorang pustakawan harus bisa mengatur pengelolaan perpustakaan yang ia pegang. Baik itu anggaran atau program kerja yang dilaksanakan, perpustakaan tidak bisa diam begitu saja. Ia haruslah berkembang, karena perpustakaan merupakan organisme yang berkembang. Kemudian pustakawan dapat melakukan perawatan koleksi. Baik itu pencegahan maupun perbaikan terhadap koleksi yang ada.

Kompetensi yang kedua adalah pengelolaan informasi, kompetensi ini meliputi pengembangan koleksi, pengorganisasian informasi, pemberian jasa sumber informasi, dan penerapan teknologi informasi. Kompetensi ini merupakan yang paling penting. Karena seorang pustakawan memilah dan memilih sumber informasi yang tepat untuk ditempatkan di perpustakaan.

Kompetensi ketiga meliputi kemampuan kependidikan, pustakawan dituntut untuk menyesuaikan misi perpustakan dengan misi sekolah. Salah satu kemampuan kompetensi disini adalah memberikan bimbingan literasi informasi, literasi informasi adalah kemampuan yang sangat penting dalam era informasi saat ini. Bila seorang yang ditempatkan di perpustakaan asal-asalan dan tidak memahami tentang literasi, bagaimana ia dapat memberikan bimbingan kepada penggunanya?

Kompetensi selanjutnya adalah komptensi kepribadian, sosial, dan pengembangan kepribadian. Kompetensi ini tentu dalam setiap profesi apapun harus dimiliki. Bagaimana jika orang yang ditempatkan di perpustakaan tersebut adalah orang yang malas bekerja? Tidak kompeten dan asal-asalan, tentu sudah tidak memenuhi kompetensi yang harusnya dimiliki oleh seorang pustakawan.

Menjadi seorang pustakawan bukanlah profesi biasa, ia adalah seorang ahli informasi, keberadaannya menjadi juru kunci di perpustakaan. Kunci-kunci ilmu pengetahuan yang ada di perpustakaan akan terbuka lebar manakala pustakawan berada di perpustakaan. (santi)

#perpustakaan#pustakawan

Majas

  1. Simile adalah gaya bahasa dengan perbandingan secara langsung. Tandanya adalah adanya kata-kata pembanding misalnya laksana, seakan, bak, bagai, dan seperti. Contoh:
  • Dia sangat cantik hari ini seperti kembang yang mekar di pagi hari.
  • Pandangannya tajam bak seekor harimau yang siap menerkam
  1. Hiperbola, Yaitu gaya bahasa untuk membesar-besarkan sesuatu agar terasa bombastis. Contoh:
  • Dia diam seribu bahasa.
  • Dia merasa begitu tenggelam dan mati dalam kesepiannya.